Kamis, 26 Mei 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Sang Nabi Terakhir

Khadijah pergi menjumpai saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal. Waraqah adalah seorang penganut agama Nasrani yang sudah mengenal Injil dan sudah pula menerjemahkannya sebagian ke dalam bahasa Arab. Khadijah menuturkan apa yang dilihat dan didengar Muhammad.

Waraqah menekur sebentar, kemudian berkata, "Maha Kudus Ia, Maha Kudus. Demi Dia yang memegang hidup Waraqah. Khadijah, percayalah! Dia telah menerima Namus Besar seperti yang pernah diterima Musa. Dan sungguh dia adalah Nabi umat ini. Katakan kepadanya supaya tetap tabah!"

Khadijah pulang. Dilihatnya Muhammad masih tidur. Dalam tidur yang demikian itu, tiba-tiba ia menggigil, napasnya terlihat sesak dengan keringat yang sudah membasahi wajahnya. Ia terbangun, manakala didengarnya malaikat datang membawakan wahyu kepadanya: "Hai orang yang berselimut! Bangunlah dan sampaikan peringatan. Dan agungkan Tuhanmu. Pakaianmu pun bersihkan. Dan hindarkan perbuatan dosa. Jangan kau memberi, karena ingin menerima lebih banyak. Dan demi Tuhanmu, tabahkan hatimu." (QS Al-Muddatstsir: 17).

"Waktu tidur dan istirahat sudah tak ada lagi, Khadijah," katanya. "Jibril membawa perintah supaya aku memberi peringatan kepada umat manusia, mengajak mereka, dan supaya mereka beribadah hanya kepada Allah. Tapi siapa yang akan kuajak? Dan siapa pula yang akan mendengarkan?"

Sesudah peristiwa itu, pada suatu hari Muhammad pergi akan mengelilingi Ka'bah. Di tempat itu Waraqah menjumpainya. Sesudah Muhammad menceritakan keadaannya, Waraqah berkata, "Demi Dia Yang memegang hidup Waraqah. Engkau adalah Nabi atas umat ini. Engkau telah menerima Namus Besar seperti yang pernah disampaikan kepada Musa. Pastilah kau akan didustakan orang, akan disiksa, akan diusir dan akan diperangi. Kalau sampai pada waktu itu aku masih hidup, pasti aku akan membela yang di pihak Allah dengan pembelaan yang sudah diketahui-Nya pula."

Sekarang Rasulullah SAW berpikir, bagaimana akan mengajak Quraisy supaya turut beriman, padahal ia tahu benar mereka sangat kuat mempertahankan kebatilan itu. Mereka bersedia berperang dan mati untuk itu. Ditambah lagi mereka masih sekeluarga dan sanak famili yang dekat.

Sementara ia dalam kekhawatiran, sesudah sekian lama terhenti, tiba-tiba datang Jibril membawa firman Allah: "Demi pagi cerah yang gemilang. Dan demi malam bila senyap kelam. Tuhanmu tidak meninggalkan kau, juga tidak merasa benci. Dan sungguh, hari kemudian itu lebih baik buat kau daripada yang sekarang. Dan akan segera ada pemberian dari Tuhan kepadamu. Maka engkau pun akan bersenang hati. Bukankah Ia mendapati kau seorang yatim, lalu diberi-Nya tempat berlindung? Dan Ia mendapati kau tak tahu jalan, lalu diberi-Nya kau petunjuk? Karena itu, terhadap anak yatim, jangan kau bersikap bengis. Dan tentang orang yang meminta, jangan kau tolak. Dan tentang kurnia Tuhanmu, hendaklah kau sebarkan." (QS Adh-Dhuha: 1-11)

Allah SWT kemudian mengajarkan Nabi shalat, maka ia pun shalat, Khadijah ikut pula shalat. Selain puteri-puterinya, tinggal bersama keluarga itu Ali bin Abi Talib sebagai anak muda yang belum baligh.

Tatkala Muhammad dan Khadijah sedang shalat, tiba-tiba Ali menyeruak masuk. Dilihatnya kedua orang itu sedang ruku' dan sujud serta membaca beberapa ayat Al-Qur'an yang sampai pada waktu itu sudah diwahyukan kepadanya.

Ali berdiri tertegun, "Kepada siapa kalian sujud?" tanyanya setelah selesai shalat.

"Kami sujud kepada Allah," jawab Nabi SAW. "Yang mengutusku menjadi nabi dan memerintahkan aku mengajak manusia menyembah Allah."

Lalu Muhammad pun mengajak sepupunya itu beribadah kepada Allah semata, tiada bersekutu serta menerima agama yang dibawa Nabi utusan-Nya, dengan meninggalkan berhala-berhala semacam Lata dan Uzza. Muhammad lalu membacakan beberapa ayat Qur'an. Ali sangat terpesona karena ayat-ayat itu luar biasa indahnya.

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Raja yang Bijak

Kedua orang utusan itu adalah Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah. Kepada Najasyi dan para pembesar istana mereka mempersembahkan hadiah-hadiah dengan maksud agar mereka sudi mengembalikan orang-orang yang hijrah dari Makkah itu.

"Paduka Raja," kata mereka, "Penduduk Makkah yang datang ke negeri paduka ini adalah budak-budak kami yang tidak punya malu. Mereka meninggalkan agama bangsanya dan tidak pula menganut agama paduka. Mereka membawa agama yang mereka ciptakan sendiri, yang tidak kami kenal dan tidak juga paduka. Kami diutus kepada paduka oleh pemimpin-pemimpin mereka, oleh orang-orang tua, paman mereka dan keluarga mereka sendiri, supaya paduka sudi mengembalikan orang-orang itu."

Sebenarnya kedua utusan itu telah mengadakan persetujuan dengan pembesar-pembesar istana, setelah menerima hadiah-hadiah dari penduduk Makkah, mereka akan membantu usaha mengembalikan kaum Muslimin itu kepada pihak Quraisy. Pembicaraan mereka ini tidak diketahui raja.

Tetapi baginda menolak sebelum mendengar sendiri keterangan dari pihak Muslimin. Lalu dimintanya mereka datang menghadap. "Agama apa ini yang sampai membuat tuan-tuan meninggalkan masyarakat tuan-tuan sendiri, tetapi tidak juga tuan-tuan menganut agamaku, atau agama lain?" tanya Najasyi setelah mereka datang.

Yang diajak bicara ketika itu ialah Ja'far bin Abi Thalib. "Paduka Raja," katanya, "Ketika itu kami masyarakat yang bodoh, kami menyembah berhala, bangkai pun kami makan. Segala kejahatan kami lakukan, memutuskan hubungan dengan kerabat, dengan tetangga pun kami tidak baik, yang kuat menindas yang lemah. Demikian keadaan kami, sampai Tuhan mengutus seorang rasul dari kalangan kami yang sudah kami kenal asal usulnya, dia jujur, dapat dipercaya dan bersih pula."

Ja'far melanjutkan, "Ia mengajak kami menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa, dan meninggalkan batu-batu dan patung-patung yang selama itu kami sembah. Ia menganjurkan kami untuk tidak berdusta untuk berlaku jujur serta mengadakan hubungan keluarga dan tetangga yang baik, serta menyudahi pertumpahan darah dan perbuatan terlarang lainnya. Ia melarang kami memakan harta anak yatim atau mencemarkan wanita-wanita yang bersih. Ia meminta kami menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya. Selanjutnya kami disuruh melakukan shalat, membayar zakat dan berpuasa."

"Karena itulah, tambah Ja'far, "Masyarakat kami memusuhi kami, menyiksa dan menghasut supaya meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala, kembali membenarkan segala keburukan yang pernah kami lakukan dulu. Oleh karena mereka memaksa, menganiaya, menekan dan menghalang-halangi kami dari agama kami, maka kami pun keluar pergi ke negeri tuan ini. Tuan jugalah yang menjadi pilihan kami. Senang sekali kami berada di dekat tuan, dengan harapan di sini takkan ada penganiayaan."

"Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu yang dapat tuan-tuan bacakan kepada kami?" tanya Raja itu lagi.

"Ya," jawab Ja'far, lalu membacakan Surah Maryam dari ayat pertama sampai pada firman Allah: "...maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: 'Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?' Berkata Isa, 'Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali!" (QS Maryam: 29-33).

Setelah mendengar bahwa keterangan itu membenarkan apa yang tersebut dalam Injil, pemuka-pemuka istana terkejut. "Kata-kata yang keluar dari sumber yang mengeluarkan kata-kata Yesus Kristus," kata mereka.

Najasyi lalu berkata (kepada kedua orang utusan Quraisy), "Kata-kata ini dan yang dibawa oleh Musa, keluar dari sumber cahaya yang sama. Tuan-tuan pergilah. Kami takkan menyerahkan mereka kepada tuan-tuan!"

Keesokan harinya Amr bin Ash kembali menghadap Raja dengan mengatakan bahwa kaum Muslimin mengeluarkan tuduhan yang luar biasa terhadap Isa anak Maryam.

"Panggillah mereka dan tanyakan apa yang mereka katakan itu!" perintah Najasyi.

Setelah mereka datang, Ja'far berkata, "Tentang dia, pendapat kami seperti yang dikatakan Nabi kami. Dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya, ruh-Nya dan firman-Nya yang disampaikan kepada perawan Maryam."

Najasyi lalu mengambil sebatang tongkat dan menggoreskannya di lantai. Dan dengan gembira berkata, "Antara agama tuan-tuan dan agama kami sebenarnya tidak lebih dari garis ini."

Setelah mendengar keterangan dari kedua belah pihak, nyatalah bagi Najasyi, bahwa kaum Muslimin itu mengakui Isa, mengenal adanya Kristen dan menyembah Allah.

Selama di Abisinia kaum Muslimin merasa aman dan tenteram. Ketika kemudian disampaikan kepada mereka, bahwa permusuhan pihak Quraisy sudah berangsur reda, mereka lalu kembali ke Makkah untuk pertama kalinya. Sementara Rasulullah SAW pun masih di Makkah.

Sumber: Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Tahun Duka Cita

Beberapa bulan setelah pencabutan blokade, secara tiba-tiba sekali dalam satu tahun saja, Nabi SAW didera duka cita yang sangat mendalam, yakni kematian Abu Thalib dan Khadijah secara berturut-turut.

Waktu itu Abu Thalib sudah berusia delapan puluh tahun lebih. Setelah Quraisy mengetahui ia dalam keadaan sakit yang akan merupakan akhir hayatnya, mereka merasa khawatir dengan apa yang bakal terjadi nanti antara mereka dengan Muhammad dan para sahabatnya. Apalagi setelah ada Hamzah dan Umar yang terkenal garang dan keras.

Oleh sebab itu, pemuka-pemuka Quraisy segera mendatangi Abu Thalib. "Abu Thalib, seperti kau ketahui, kau adalah dari keluarga kami juga. Keadaan sekarang seperti kau ketahui sendiri, sangat mencemaskan kami. Engkau juga sudah mengetahui keadaan kami dengan keponakanmu itu. Panggillah dia. Kami akan saling
memberi dan saling menerima. Dia angkat tangan dari kami, kami pun akan demikian. Biarlah kami dengan agama kami dan dia dengan agamanya sendiri pula," kata mereka.

Rasulullah datang tatkala mereka masih berada di tempat pamannya itu. Setelah diketahuinya maksud kedatangan mereka, beliau berkata, “Sepatah kata saja yang aku minta, yang akan membuat mereka merajai semua orang Arab dan bukan Arab."

"Ya, demi bapakmu," jawab Abu Jahal. "Sepuluh kata sekalipun silakan!"

"Katakan, tidak ada tuhan selain Allah! Dan tinggalkan segala penyembahan yang selain Allah," kata Nabi SAW.

"Muhammad, maksudmu supaya tuhan-tuhan itu dijadikan satu Tuhan saja?" tanya mereka.

Kemudian mereka berkata satu sama lain, "Orang ini tidak akan memberikan apa-apa seperti yang kamu kehendaki. Pergilah kalian!"

Ketika Abu Thalib meninggal, hubungan Rasulullah dengan pihak Quraisy lebih buruk lagi dari yang sudah-sudah. Dan sesudah Abu Thalib, disusul pula dengan wafatnya Khadijah.

Dua peristiwa itu meninggalkan duka cita dalam jiwa Muhammad SAW. Dan pihak Quraisy semakin keras mengganggunya. Yang paling ringan diantaranya ialah ketika seorang pandir Quraisy mencegatnya di tengah jalan lalu menyiramkan tanah ke kepalanya.

Tahukah orang apa yang dilakukan Rasulullah? Beliau pulang ke rumah dengan tanah yang masih di atas kepala. Fatimah, puterinya, lalu datang mencucikan kotoran tersebut sambil menangis. Tak ada yang lebih pilu rasanya dalam hati seorang ayah daripada mendengar tangis anaknya, lebih-lebih anak perempuan.

"Jangan menangis anakku," kata beliau kepada puterinya yang sedang berlinang air mata itu. "Allah akan melindungi ayahmu!"

Setelah peristiwa itu gangguan Quraisy kepada Muhammad SAW semakin
menjadi-jadi. Beliau merasa sangat tertekan.

Terasing seorang diri, beliau pergi ke Thaif, tanpa diketahui orang lain. Beliau berharap mendapatkan dukungan dan suaka dari warga Thaif dan mereka pun akan dapat menerima Islam. Namun ternyata mereka juga menolaknya secara kejam. Mereka menghasut orang-orang pandir agar bersorak-sorai dan memakinya.

Keadaan itu diketahui pula oleh Quraisy sehingga gangguan mereka kepada Muhammad SAW makin menjadi-jadi. Namun hal itu tidak mengurangi semangat Rasulullah dalam menyampaikan dakwah Islam.

Kepada kabilah-kabilah Arab pada musim ziarah, beliau memperkenalkan diri, mengajak mereka mengenal arti kebenaran. Diberitahukannya kepada mereka, bahwa ia adalah Nabi yang diutus, dan dimintanya mereka memercayainya.

Namun sungguhpun begitu, Abu Lahab, sang paman, tidak membiarkannya. Bahkan dibuntutinya ke mana pun beliau pergi. Dihasutnya orang supaya jangan mau mendengarkan.

Muhammad SAW sendiri tidak cukup hanya memperkenalkan diri kepada kabilah-kabilah Arab pada musim ziarah di Makkah saja. Beliau mendatangi Bani Kindah, Bani Kalb, Bani Hanifah dan Bani Amir bin Sha'sha'ah. Tapi tak seorang pun dari mereka yang mau mendengarkan.

Bani Hanifah bahkan menolak dengan cara yang buruk sekali. Sedang Bani Amir menunjukkan ambisinya, bahwa kalau Muhammad mendapat kemenangan, maka sebagai penggantinya, segala persoalan nanti harus berada di tangan mereka. Namun setelah dijawab, bahwa masalah itu berada di tangan Allah, mereka pun membuang muka dan menolaknya seperti yang lain.

Makin besar penolakan yang dilakukan kabilah-kabilah itu, makin besar pula keinginan Rasulullah untuk menyendiri. Pihak Quraisy pun kian gigih dalam melakukan gangguan kepada para sahabatnya. Beliau pun kian merasakan kepedihan.

Sumber: Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal

Rabu, 25 Mei 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Isra’ dan Mikraj

Malam itu Muhammad SAW sedang berada di rumah saudara sepupunya, Hindun, putri Abu Thalib yang dipanggil Ummu Hani'.

Ketika itu Hindun berkata, "Malam itu Rasulullah bermalam di rumah saya. Selesai shalat akhir malam, ia tidur dan kami pun tidur. Pada waktu sebelum fajar, Rasulullah sudah membangunkan kami. Sesudah melakukan ibadah pagi bersama-sama kami, ia berkata, 'Ummu Hani', aku sudah shalat akhir malam bersama kamu sekalian seperti yang kau lihat di lembah ini. Kemudian aku ke Baitul Maqdis (Yerusalem) dan shalat di sana. Sekarang aku shalat siang bersama-sama kamu seperti kau lihat.' Kataku, 'Rasulullah, janganlah ceritakan hal ini kepada orang lain. Orang akan mendustakan dan mengganggumu lagi!' Rasulullah menjawab, 'Tapi aku harus menceritakan kepada mereka."

Orang yang mengatakan bahwa Isra' dan Mikraj Muhammad SAW dengan ruh itu berpegang pada keterangan Ummu Hani' ini, dan juga kepada yang pernah dikatakan oleh Aisyah, "Jasad Rasulullah SAW tidak hilang, tetapi Allah menjadikan Isra' itu dengan ruhnya."

Juga Muawiyah bin Abi Sufyan ketika ditanya tentang Isra' Rasul mengatakan, itu adalah mimpi yang benar dari Tuhan. Sebaliknya orang yang berpendapat, bahwa Isra' dari Makkah ke Baitul Maqdis itu dengan jasad, landasannya adalah apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah, bahwa dalam Isra' itu beliau berada di pedalaman. Sedang Mikraj ke langit adalah dengan ruh. Di samping mereka itu, ada lagi pendapat bahwa Isra' dan Mikraj itu keduanya dengan jasad. Polemik sekitar perbedaan pendapat ini banyak terjadi di kalangan ahli-ahli ilmu kalam dan ribuan pula tulisan-tulisan yang sudah dikemukakan orang.

Jadi barangsiapa yang mau menyatakan pendapatnya, bahwa Isra' dan Mikraj itu keduanya dengan ruh, maka dasarnya adalah seperti yang sudah berulang-ulang pula disebutkan dalam Al-Qur'an dan diucapkan Rasulullah. "...Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: 'Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa." (QS Al-Kahfi: 110).

Orang-orang Arab penduduk Makkah tidak dapat memahami semua pengertian ini. Itulah pula sebabnya, tatkala soal Isra' itu disampaikan oleh Rasulullah kepada mereka, mereka pun menanggapinya dengan beragam. Apa yang dikatakannya itu kemudian menimbulkan kesangsian juga pada beberapa orang pengikutnya. Mereka yang tadinya sudah percaya, berbalik arah.

Menurut mereka, masalah ini sudah jelas. Perjalanan kafilah yang terus-menerus pun antara Makkah-Syam memakan waktu sebulan pergi dan sebulan pulang. Mana mungkin Muhammad hanya satu malam saja pergi-pulang ke Makkah? Tidak sedikit mereka yang sudah Islam itu kemudian berbalik murtad.

Mereka yang masih menyangsikan hal ini lalu mendatangi Abu Bakar dan keterangan yang diberikan Muhammad SAW itu dijadikan bahan pembicaraan.

"Kalian berdusta," kata Abu Bakar.

"Sungguh, dia di masjid sedang bicara dengan orang banyak," kata mereka.

"Dan kalaupun itu yang dikatakannya," kata Abu Bakr lagi, "Tentu dia bicara yang sebenarnya. Dia mengatakan kepadaku, bahwa ada berita dari Tuhan, dari langit ke bumi, pada waktu malam atau siang, aku percaya. Ini lebih lagi dari yang kamu herankan."

Abu Bakar lalu mendatangi Nabi SAW dan mendengarkan beliau melukiskan Baitul Maqdis. Abu Bakar sudah pernah berkunjung ke kota itu. Setelah Rasulullah selesai melukiskan keadaan masjidnya, Abu Bakar berkata tegas, "Rasulullah, saya percaya!"

Sejak itu Rasulullah memanggil Abu Bakar dengan "Ash-Shiddiq".

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Pertemuan Tiga Agama Langit

Ajaran-ajaran Rasulullah serta teladan dan bimbingan yang diberikannya telah meninggalkan pengaruh yang dalam sekali ke dalam jiwa orang, sehingga tidak sedikit orang yang berdatangan menyatakan masuk Islam. Dan kaum Muslimin pun makin bertambah kuat di Madinah.

Ketika itulah orang-orang Yahudi mulai memikirkan kembali posisi mereka terhadap Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya. Mereka dengan telah mengadakan perjanjian dengan beliau. Mereka bermaksud merangkulnya ke pihak mereka agar posisi mereka bertambah kuat terhadap orang-orang Kristen.

Akan tetapi ada seorang rabbi yang cerdik-pandai, yaitu Abdullah bin Salam yang telah berhubungan dengan Nabi dan memeluk Islam, merasa khawatir akan muncul hujatan yang dilontarkan orang-orang Yahudi jika mereka mengetahui dirinya telah memeluk Islam. Maka di seluruh perkampungan Yahudi itu, Abdullah mulai difitnah dan diumpat dengan kata-kata yang tak senonoh.

Dalam hal ini, kaum Yahudi juga sepakat akan berkomplot melawan Muhammad SAW dan menolak kenabiannya. Secepat itu pula sisa-sisa orang yang masih musyrik dari kalangan Aus dan Khazraj serta mereka yang pura-pura masuk Islam segera menggabungkan diri.

Kini mulai terjadi konflik antara Rasulullah SAW dengan orang-orang Yahudi, yang ternyata lebih bengis dan lebih licik daripada konflik yang dulu pernah terjadi antara beliau dengan orang-orang Quraisy di Makkah. Dalam perang yang terjadi di Madinah ini semua orang Yahudi berdiri dalam satu barisan menyerang Rasulullah dan risalahnya, menyerang sahabat-sahabatnya—kaum Muhajirin dan Anshar.

Begitu memuncaknya polemik antara orang-orang Yahudi dan kaum Muslimin itu, sehingga acapkali—sekalipun sudah ada perjanjian antara mereka—permusuhan itu berakhir dengan bentrok fisik.

Tak cukup dengan maksud hanya menimbulkan insiden antara Muhajirin dan Anshar, antara Aus dan Khazraj, dan tidak pula cukup dengan membujuk kaum Muslimin supaya meninggalkan agamanya dan kembali menjadi syirik, bahkan lebih dari itu orang-orang Yahudi itu kini berusaha memperdayai Rasulullah.

Pemuka dan pemimpin mereka datang menemui beliau dengan berujar, "Tuhan sudah mengetahui keadaan kami, kedudukan kami. Kalau kami mengikuti tuan, orang-orang Yahudi pun akan juga ikut dan mereka tidak akan menentang kami. Sebenarnya antara kami dengan beberapa kelompok golongan kami timbul permusuhan. Lalu kami datang ini minta keputusan tuan. Berilah kami keputusan. Kami akan ikut tuan dan percaya kepada tuan."

Kemudian turunlah firman Allah: "Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS Al-Maa'idah: 49-50).

Orang-orang Yahudi merasa sesak napas terhadap Rasulullah. Terpikir oleh mereka untuk melakukan tipu-daya terhadap Rasulullah hingga beliau keluar meninggalkan Madinah, seperti yang terjadi karena gangguan-gangguan Quraisy dahulu hingga beliau dan sahabat-sahabatnya keluar meninggalkan Makkah.

Pada waktu polemik antara Rasulullah dan orang-orang Yahudi kian memuncak, delegasi Nasrani dari Najran tiba di Madinah, terdiri dari enam puluh buah kendaraan. Diantara mereka terdapat orang-orang terkemuka, orang-orang yang sudah mempelajari dan menguasai seluk-beluk agama mereka.

Pada waktu itu penguasa-penguasa Rumawi yang juga menganut agama Nasrani sudah memberikan kedudukan, memberikan bantuan harta, memberikan bantuan tenaga serta membuatkan gereja-gereja dan kemakmuran buat kaum Nasrani Najran itu.

Boleh jadi delegasi ini datang ke Madinah hanya karena mereka sudah mengetahui adanya pertentangan antara Nabi dengan orang-orang Yahudi, dengan harapan mereka akan dapat mengobarkan pertentangan itu lebih hebat sampai menjadi perang terbuka. Dengan demikian orang-orang Nasrani yang berada di perbatasan Syam dan Yaman dapat membebaskan diri dari intrik-intrik Yahudi dan sikap permusuhan orang-orang Arab.

Dengan datangnya delegasi ini dan polemiknya dengan Nabi serta dibukanya kancah pertarungan teologis yang sengit antara Yahudi, Nasrani dan Islam, maka ketiga agama samawi sekarang berkumpul. Pihak Yahudi samasekali menolak ajaran Isa dan Muhammad. Sedang pihak Nasrani berpaham trinitas dan menuhankan Isa. Sebaliknya Rasulullah mengajak orang kepada keesaan Allah.

Di manakah ada suatu pertemuan yang hakikatnya lebih besar dari pertemuan yang kini dialami oleh Madinah? Tiga agama samawi bertemu di tempat ini, yang hingga kini saling memengaruhi perkembangan dunia. Di tempat ini ketiganya bertemu untuk suatu tujuan dan cita-cita yang tinggi dan mulia. Ini bukanlah suatu pertemuan ekonomi, juga bukan dengan suatu tujuan materi, yang sampai saat ini dikejar-kejar dunia namun tiada juga berhasil—melainkan tujuannya adalah ruhiyah semata-mata.

Namun dalam hal ini, dibelakang Nasrani dan Yahudi, berdiri ambisi-ambisi politik serta keinginan-keinginan orang-orang yang memiliki uang dan kuasa. Sebaliknya, tujuan dakwah Rasulullah adalah ruhaniah dan perikemanusiaan semata-mata, yang jalannya telah ditunjukkan Allah kepadanya dengan bentuk kata yang dialamatkan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani serta seluruh umat manusia.

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Menjelang Perang Badar

Pada permulaan musim gugur tahun kedua Hijrah, Abu Sufyan berangkat membawa perdagangan yang cukup besar, menuju Syam. Perjalanan dagang inilah yang ingin dicegat oleh orang-orang Islam ketika Nabi SAW dulu pergi ke Usyaira. Tetapi tatkala mereka sampai kafilah Abu Sufyan sudah lewat dua hari lebih dulu sebelum ia tiba di tempat tersebut.

Sekarang kaum Muslimin bertekad menunggu mereka kembali. Sementara Rasulullah menantikan mereka kembali dari Syam itu, dikirimlah Talhah bin Ubaidillah dan Sa'id bin Zaid menunggu berita-berita. Mereka berdua berangkat, dan sesampai di tempat Kasyd Al-Juhani di bilangan Haura', mereka bersembunyi, menunggu hingga kafilah itu lewat. Kemudian mereka berdua cepat-cepat menemui Rasulullah guna memberitahukan keadaan mereka.

Sementara itu, Abu Sufyan sudah mengetahui pula akan kepergian Muhammad SAW yang akan mencegat kafilahnya dalam perjalanan ke Syam. Ia khawatir kalau-kalau kaum Muslimin akan mencegatnya bila ia kembali dengan membawa laba perdagangan. Abu Sufyan lalu mengupah Dzamdzam bin Amr Al-Ghifari supaya cepat-cepat pergi ke Makkah untuk mengerahkan Quraisy menolong harta-benda mereka, juga diberitahukannya, bahwa Muhammad dan sahabat-sahabatnya sedang mengancam.

Setibanya di Makkah, ketika berada di tengah-tengah sebuah lembah, Dzamdzam memotong kedua telinga dan hidung untanya dan membalikkan pelananya. Dengan mengenakan baju yang sudah dikoyak-koyak bagian depan dan belakangnya, ia berteriak, "Hai orang-orang Quraisy! Kafilah, kafilah! Harta bendamu di tangan Abu Sufyan telah dicegat oleh Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Kamu sekalian harus segera menyusul. Perlu pertolongan! Pertolongan!"

Mendengar ini Abu Jahal segera memanggil orang-orang di sekitar Ka'bah. Mereka dikerahkan. Sebenarnya orang-orang Quraisy itu sudah tidak perlu lagi dikerahkan, karena setiap orang memiliki saham sendiri-sendiri dalam kafilah itu.

Pada hari kedelapan bulan Ramadhan tahun kedua Hijrah, Nabi SAW berangkat dengan sahabat-sahabatnya meninggalkan Madinah. Dalam perjalanan ini kaum Muslimin didahului oleh dua bendera hitam. Mereka membawa tujuh puluh ekor unta, yang dinaiki dengan cara silih berganti. Setiap dua orang, setiap tiga orang dan setiap empat orang bergantian naik seekor unta.

Dalam hal ini, Rasulullah juga mendapat bagian sama seperti sahabat-sahabatnya yang lain. Beliau, Ali bin Abi Thalib dan Marthad bin Marthad Al-Ghanawi bergantian naik seekor unta. Abu Bakar, Umar dan Abdurahman bin Auf bergantian juga dengan seekor unta. Jumlah mereka yang berangkat bersama Muhammad dalam ekspedisi ini terdiri dari 305 orang, 83 di antaranya Muhajirin, 61 orang Aus dan selebihnya dari Khazraj.

Karena dikhawatirkan Abu Sufyan akan menghilang lagi, mereka cepat-cepat berangkat sambil terus berusaha mengikuti berita-berita tentang orang ini di mana saja mereka berada. Tatkala sampai di Irq Az-Zubya, mereka bertemu dengan seorang orang Arab gunung yang ketika ditanyai tentang rombongan itu, ternyata ia tidak tahu apa-apa. Mereka meneruskan perjalanan hingga sampai di sebuah wadi bernama Dhafiran; di tempat itu mereka turun. Di tempat inilah mereka mendapat berita, bahwa pihak Quraisy sudah berangkat dari Makkah, akan melindungi kafilah mereka.

Ketika itu suasananya sudah berubah. Kini kaum Muslimin dari kalangan Muhajirin dan Anshar bukan lagi berhadapan dengan Abu Sufyan dengan kafilahnya yang berjumlah 30 atau 40 orang itu saja—yang takkan dapat melawan Muhammad SAW dan para sahabatnya, melainkan Makkah dengan seluruh isinya kini keluar dipimpin oleh pemuka-pemuka mereka sendiri guna membela perdagangan mereka itu.

Andaikata pihak Muslimin dapat mengejar Abu Sufyan, dan beberapa orang dari rombongan itu dapat ditawan, unta beserta muatannya sudah dapat dikuasai, maka pihak Quraisy pun tentu akan segera pula dapat menyusul mereka. Karena mereka terdorong oleh rasa cinta terhadap harta dan ingin mempertahankannya. Mereka merasa telah didukung oleh sejumlah orang dan perlengkapan yang cukup besar, dan akan bertempur demi harta mereka.

Rasulullah kemudian bermusyawarah dengan para sahabatnya. Diberitahukannya kepada mereka tentang keadaan Quraisy menurut berita yang sudah diterimanya. Abu Bakar dan Umar juga memberikan pendapat.

Kemudian Miqdad bin Amr tampil seraya berujar, "Rasulullah, teruskanlah apa yang sudah ditunjukkan Allah. Kami akan bersamamu. Kami tidak akan mengatakan seperti Bani Israil yang berkata kepada Musa: 'Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah! Kami di sini akan tinggal menunggu.' Tetapi pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, kami bersamamu akan turut berjuang juga."

Mereka kemudian berangkat. Ketika sampai pada suatu tempat dekat Badar, Rasulullah pergi lagi dengan untanya sendirian. Beliau menemui seorang orang Arab tua. Kepada orang ini beliau menanyakan tentang Quraisy yang kemudian diketahui bahwa kafilah Quraisy berada tidak jauh dari tempat itu.

Rasulullah kemudian kembali ke tempat sahabat-sahabatnya. Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash dan beberapa orang sahabat lainnya segera ditugaskan mengumpulkan berita-berita dari sebuah tempat di Badar. Mereka kembali dengan membawa dua orang anak. Dari kedua anak ini Rasulullah mengetahui, bahwa pihak Quraisy kini berada di balik bukit pasir di tepi ujung wadi.

Ketika Rasulullah menanyakan apakah mereka mengetahui berapa jumlah pihak Quraisy, kedua anak itu menjawab, "Tidak tahu!"

"Berapa ekor ternak yang mereka potong tiap hari?" tanya Rasulullah.

"Kadang sehari sembilan, kadang sehari sepuluh ekor," jawab mereka.

Dengan demikian, Nabi SAW dapat mengambil kesimpulan, bahwa pihak musuh terdiri dari antara 900 sampai 1.000 orang. Juga dari kedua anak itu dapat diketahui bahwa bangsawan-bangsawan Quraisy turut serta dalam rombongan tersebut.

Mau tak mau, kini Rasulullah dan para sahabatnya harus berhadapan dengan sebuah rombongan yang jumlahnya tiga kali jauh lebih besar. Mereka harus mengerahkan seluruh semangat dan mempersiapkan mental guna menghadapi pertempuran yang bakal terjadi.

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Kemenangan di Badar

Kaum Muslimin harus siap menantikan pertempuran yang sengit dan dahsyat, yang takkan dapat dimenangkan kecuali oleh iman yang kuat memenuhi kalbu, iman dan kepercayaan akan adanya kemenangan itu.

Ketika Ali sudah kembali dengan kedua orang anak yang membawa berita tentang Quraisy itu, dua orang Muslimin lainnya berangkat lagi menuju lembah Badar. Mereka berhenti di atas sebuah bukit tidak jauh dari tempat air, dikeluarkannya tempat persediaan airnya, dan di sini mereka mengisi air.

Hingga keesokan harinya kaum Muslimin masih menantikan kafilah itu akan lewat. Tetapi setelah ada berita-berita bahwa Abu Sufyan sudah lolos dan yang masih ada di dekat mereka sekarang adalah angkatan perang Quraisy, beberapa orang yang tadinya mempunyai harapan penuh akan beroleh harta rampasan, terbalik menjadi layu. Beberapa orang bertukar pikiran dengan Nabi dengan maksud supaya kembali saja ke Madinah, tidak perlu berhadapan dengan mereka yang datang dari Makkah hendak berperang.

Pada pihak Quraisy juga demikian. Perlu apa mereka berperang, perdagangan mereka sudah selamat? Bukankah lebih baik mereka kembali ke tempat semula, dan membiarkan pihak Islam kembali ke tempat mereka. Abu Sufyan juga berpikir begitu. Itu sebabnya ia mengirim utusan kepada Quraisy sambil berpesan, "Kalian telah berangkat guna menjaga kafilah dagang, orang-orang serta harta-benda kita. Sekarang kita sudah diselamatkan Tuhan. Kembalilah!"

Tidak sedikit dari pihak Quraisy sendiri yang juga mendukung pendapat ini. Tetapi Abu Jahal tiba-tiba berteriak, "Kita tidak akan kembali sebelum kita sampai di Badar. Kita akan tinggal tiga malam di tempat itu. Kita memotong ternak, makan-makan, minum-minum khamr, dan kita minta para biduanita bernyanyi. Biar orang-orang Arab itu mendengar dan mengetahui perjalanan dan persiapan kita. Agar mereka tidak lagi menakut-nakuti kita."

Mereka jadi ragu-ragu, antara mau ikut Abu Jahal karena takut dituduh pengecut, atau kembali saja setelah kafilah perdagangan mereka selamat. Namun yang kemudian kembali pulang hanya Bani Zuhrah, setelah mereka mendengarkan saran Akhnas bin Syariq, orang yang cukup ditaati mereka.

Pihak Quraisy yang lain ikut Abu Jahal. Mereka berangkat menuju ke sebuah tempat perhentian, di tempat ini mereka mengadakan persiapan perang, kemudian mengadakan perundingan. Lalu mereka berangkat lagi ke tepi ujung wadi, berlindung di balik sebuah bukit pasir.

Sebaliknya pihak Muslimin, yang sudah kehilangan kesempatan mendapatkan harta rampasan, sudah sepakat akan bertahan terhadap musuh bila kelak diserang. Oleh sebab itum mereka pun segera berangkat ke tempat mata air di Badar itu, dan perjalanan ini lebih mudah lagi karena waktu itu hujan turun.

Setelah mereka sudah mendekati mata air, Rasulullah berhenti. Ada seseorang yang bernama Hubab bin Mundzir bini Jamuh, orang yang paling banyak mengenal tempat itu, bertanya kepada Nabi SAW. "Rasulullah, bagaimana pendapat anda berhenti di tempat ini? Kalau ini sudah wahyu Tuhan, kita takkan maju atau mundur setapak pun dari tempat ini. Ataukah ini sekedar pendapat anda sendiri, suatu taktik perang belaka?"

"Sekedar pendapatku dan sebagai taktik perang," jawab Rasulullah.

"Rasulullah," katanya lagi. "Kalau begitu, tidak tepat kita berhenti di tempat ini. Mari kita pindah sampai ke tempat mata air terdekat, lalu sumur-sumur kering yang di belakang itu kita timbun. Selanjutnya kita membuat kolam, kita isi sepenuhnya. Barulah kita hadapi mereka berperang. Kita akan mendapat air minum, mereka tidak."

Melihat saran Hubab yang begitu tepat itu, Rasulullah setuju, sambil mengatakan kepada sahabat-sahabatnya bahwa beliau juga manusia seperti mereka, dan bahwa suatu pendapat itu dapat dimusyawarahkan bersama-sama dan beliau tidak akan menggunakan pendapat sendiri tanpa melibatkan mereka.

Setelah kolam selesai dibuat, Sa'ad bin Mu'adz mengusulkan, "Rasulullah," katanya, "Kami akan membuatkan sebuah dangau sebagai tempat tinggalmu, kendaraanmu kami sediakan. Kemudian biarlah kami yang menghadapi musuh. Kalau Allah memberi kemenangan kepada kita, itulah yang kita harapkan. Tetapi kalaupun sebaliknya yang terjadi, dengan kendaraan itu, engau dapat menyusul teman-teman yang ada di belakang kita. Rasulullah, masih banyak sahabat-sahabat kita yang tinggal di belakang, dan cinta mereka kepadamu tidak kurang dari cinta kami kepadamu. Sekiranya mereka dapat menduga bahwa engkau akan dihadapkan pada perang, niscaya mereka tidak akan berpisah darimu. Dengan mereka, Allah menjagamu. Mereka benar-benar ikhlas kepadamu, berjuang bersamamu."

Rasulullah sangat menghargai dan menerima baik saran Sa'ad itu. Sebuah dangau buat Nabi lalu dibangun. Jadi bila nanti kemenangan bukan di tangan Muslimin, ia takkan jatuh ke tangan musuh, dan masih akan dapat bergabung dengan sahabat-sahabatnya di Madinah.

Alangkah besarnya kecintaan para sahabat kepada Rasulullah, dan alangkah besarnya kepercayaan mereka pada ajaran beliau. Mereka semua mengetahui bahwa kekuatan Quraisy jauh lebih besar dari kekuatan mereka, jumlahnya tiga kali lipat banyaknya. Namun sungguhpun demikian, mereka sanggup menghadapi dan sanggup melawan. Suasana yang bagaimana lagi yang lebih patut dikagumi daripada ini? Iman mana lagi yang lebih menjamin akan memberikan kemenangan seperti iman mereka ini?

Dan pertempuran pun dimulai. Aswad bin Abdul Asad (Bani Makhzum) keluar dari barisan Quraisy langsung menyerbu ke tengah-tengah barisan Muslimin dengan maksud hendak menghancurkan kolam air yang sudah selesai dibuat. Namun Hamzah bin Abdul Muthalib menyambutnya dengan sebuah pukulan yang mengenai kakinya, hingga ia tersungkur. Hamzah kemudian menebaskan pedangnya, dan Aswad pun tewas di dekat kolam.

Begitu Aswad tewas, Utbah bin Rabi'ah didampingi oleh Syaibah, saudaranya, dan Walid bin Utbah, anaknya, maju ke gelanggang pertempuran. Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib dan Ubaida bin Al-Harits, menyambut mereka. Hamzah tidak lagi memberi kesempatan kepada Syaibah, juga Ali tidak memberi kesempatan kepada Walid, keduanya dapat mereka bunuh. Lalu keduanya segera membantu Ubaidah yang sedang terancam oleh Utbah. Melihat kenyataan demikian, Quraisy pun maju menyerbu.

Pada pagi Jumat 17 Ramadan itulah kedua pasukan itu saling berhadap-hadapan. Rasulullah sendiri tampil memimpin pasukan Muslimin, mengatur barisan. Tetapi ketika dilihatnya pasukan Quraisy begitu besar, sedang anak buahnya sedikit sekali, disamping perlengkapan perang yang sangat lemah dibanding dengan perlengkapan Quraisy, beliau kembali ke pondoknya ditemani oleh Abu Bakar. Beliau sangat cemas dengan peristiwa yang bakal terjadi hari itu.

Rasulullah pun menghadapkan wajahnya ke kiblat, dengan seluruh jiwanya menghadapkan diri kepada Allah, membisikkan permohonan dalam hatinya agar Dia memberikan pertolongan. Rasulullah tenggelam dalam doanya.

Dalam keadaan Nabi dan sahabat-sahabatnya yang demikian inilah kedua ayat ini turun: "Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS Al-Anfaal: 65-66).

Keadaan kaum Muslimin ternyata bertambah kuat setelah Rasulullah kembali dan membangkitkan semangat mereka. Beliau turut hadir di tengah-tengah mereka, mendorong mereka mengadakan perlawanan terhadap musuh. Beliau menyerukan kepada mereka, bahwa surga telah menanti mereka yang terjun ke medang perang dan terbunuh oleh musuh. Kaum Muslimin pun mengarahkan perhatian mereka pada pemuka-pemuka dan pemimpin-pemimpin Quraisy. Kaum Muslimin hendak mengikis habis sebagai balasan yang seimbang tatkala mereka disiksa di Makkah dulu.

Tatkala Rasul SAW melihat bahwa Allah telah melaksanakan janji-Nya dan setelah nyata pula kemenangan berada di pihak umat Islam, beliau kembali ke pondoknya. Orang-orang Quraisy kabur, namun dikejar terus oleh Muslimin. Yang tidak terbunuh dan tak berhasil melarikan diri, ditawan.

Inilah Perang Badar, yang kemudian telah memberikan tempat yang stabil kepada umat Islam di seluruh tanah Arab, dan yang merupakan sebuah pendahuluan lahirnya persatuan seluruh jazirah di bawah naungan Islam.

Dengan perasaan dongkol orang-orang Makkah lari tunggang-langgang. Mereka sudah tak dapat mengangkat muka lagi. Bila mata mereka tertumbuk pada salah seorang kawan sendiri, karena rasa malunya ia segera membuang muka, mengingat nasib buruk yang telah menimpa mereka semua.